Legal Smart Channel - Gaya Hidup Cerdas Hukum

  • Muhammad sholeh

    Saya anak dari almarhum ayah saya, dan ayah saya mendapatkan sebagian harta peninggalan dari kakek saya berupa tanah dan rumah, Setelah almarhum ayah saya meninggal nenek saya mau meminta kembali tanah dan rumah itu, padahal tanah dan rumah itu sudah sah punya almarhum ayah saya dan namanya sudah diganti almarhum ayah saya, apakah saya tetap berhak meneruskan ataukah nenek saya?

  • Dijawab Oleh -

    Dijawab oleh: Sudaryadi, S.Ag., S.H., M.H. (Penyuluh Hukum Madya) Terima kasih telah berkonsultasi kepada Badan Pembinaan Hukum Nasional. Mengenai pertanyaan Saudara bahwa ayah Saudara mendapat harta peninggalan kakek Saudara maka kami mengasumsikan bahwa harta yang diberikan kepada ayah Saudara adalah harta warisan. Terkait warisan dapat kami jelaskan hal-hal sebagai berikut: Menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata) prinsip pewarisan adalah : Harta waris baru terbuka (dapat diwariskan kepada pihak lain) apabila terjadinya suatu kematian (Pasal 830 BW) Adanya hubungan darah diantara pewaris dan ahli waris, kecuali untuk suami atau isteri dari pewaris. Selanjutnya apabila digolongkan yang berhak mendapatkan warisan adalah sebagai berikut: Golongan I, yang terdiri dari suami/istri yang hidup terlama dan anak-anak serta cucu (keturunan) pewaris (dalam hal anak pewaris meninggal dunia) (Pasal 852 BW) Golongan II adalah orang tua dan saudara kandung dari pewaris termasuk keturunan dari saudara kandung pewaris (asal 854 BW). Golongan II ini baru bisa mewaris dalam hal golongan I tidak ada sama sekali. Jadi apabila masih ada ahli waris golongan I maka golongan I tersebut menutup golongan diatasnya. Golongan III adalah keluarga dalam garis lurus ke atas sesuadah bapak dan ibu pewaris (contoh kakek dan nenek pewaris, baik dari pihak ibu maupun dari pihak bapak. Mereka mewaris dalam hal ahli waris golongan I dan golongan II tidak ada,. Golongan IV adalah: Paman dan bibi pewaris baik dari pihak bapak maupun dari pihak ibu Saudara dari kakek dan enenk beserta keturunannya, sampai derajat ke enam dihitung dari pewaris. Di dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 174 Kelompok Ahli Waris yaitu sebagai berikut: a. Menurut hubungan darah: - golongan laki-laki terdiri dari : ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, paman dan kakek. - Golongan perempuan terdiri dari : ibu, anak perempuan, saudara perempuan dari nenek. b. Menurut hubungan perkawinan terdiri dari : duda atau janda, apabila semua ahli waris ada, maka yang berhak mendapat warisan hanya : anak, ayah, ibu, janda atau duda. Pasal 178 Kompilasi Hukum Islam mengenai pembagian harta warisan dijelaskan sebagai berikut: Ibu mendapat seperenam bagian bila ada anak atau dua saudara atau lebih. Bila tidak ada anak atau dua orang saudara atau lebih, maka ia mendapat sepertiga bagian. Ibu mendapat sepertiga bagian dari sisa sesudah diambil oleh janda atau duda bila bersama sama dengan ayah. Dari penjelasan di atas dapat kami simpulkan bahwa rumah dan tanah yang sudah menjadi hak milik ayah Saudara yang meninggal telah menjadi harta harta waris yang akan dibagikan kepada ahli waris. Terkait kasus ini bahwa nenek Saudara atau Ibu Alhmarhum merupakan salah satu ahli waris dan dijelaskan di pasal 178 KHI Ibu mendapat 1/6 (seperenam) karena ada anak yaitu Saudara. Selanjutnya kami menyaranan kepada Saudara jelaskan secara baik kepada nenek Saudara agar mendapatkan solusi yang yang adil. Demikian jawaban kami semoga bermanfaat. Disclaimer : Jawaban konsultasi hukum semata-mata hanya sebagai pendapat hukum dan tidak memiliki kekuatan hukum tetap dan tidak mengikat sebagaimana putusan pengadilan. Mohon kepada Bapak/Ibu untuk mengisi survey pada link berikut ini https://survei.balitbangham.go.id/ly/AqYt83xH dan memberikan penilaian *Sangat Baik* atas layanan yang telah kami berikan. Terimakasih