Legal Smart Channel - Gaya Hidup Cerdas Hukum

  • Wahyu

    Saya mengalami kesulitan ekonomi yang tidak terduga . Dan saya memiliki kwajiban cicil mobil dengan jumlah yg besar. Skarang saya sudah menunggak 2 bulan. Saya tidak ingin rugi bagaimana seharusnya tidakan yg harus saya lakukan. Namun pihak leasing tidak memikiki opsi lain selain menarik kendarraan untuj saat ini

  • Dijawab Oleh -

    Oleh: Heri Setiawan, S.H., M.H. (Penyuluh Hukum ahli Madya). Pertama-tama kami sampaikan terima kasih atas pertanyaan yang Saudara sampaikan, bagaimana tindakan yang harus dilakukan dalam hal tidak mampu mencicil pembayaran mobil dalam jumlah yang besar, tetapi pihak leasing tidak memiliki opsi lain selain menarik mobil yang belum dibayar/menunggak 2 bulan, dapat kami sampaikan sebagai berikut : a. Sebelum menjawab pertanyaan Saudara, sebaiknya saya memberitahu terlebih dahulu mengenai perjanjian menurut undang-undang. Berkaitan dengan perjanjian, hal ini diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata). Suatu perjanjian harus memenuhi ketentuan Pasal 1320 KUH Perdata, yang menyatakan bahwa supaya terjadi persetujuan yang sah, perlu dipenuhi oleh 4 (empat) syarat yaitu : 1. Kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya; 2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan; 3. Suatu pokok persoalan tertentu; 4. Suatu sebab yang tidak terlarang. Perjanjian dianggap sah dan mengikat secara penuh bagi para pihak yang membuatnya sejauh tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum yang berlaku, tidak melanggar kesusilaan dan ketertiban umum. Jadi dalam hal ini dapat dikatakan perjanjian merupakan “undang-undang” bagi setiap pihak yang mengikatkan dirinya kepada perjanjian tersebut. Perlu diketahui juga bahwa perjanjian bersifat memaksa. Kata “memaksa” di sini berarti setiap orang yang mengikatkan dirinya pada suatu perjanjian wajib menjalankan seluruh isi perjanjian. b. Mengenai perikatan, yaitu suatu hubungan hukum antara pihak yang satu dengan pihak yang lain, memberi hak pada yang satu untuk menuntut sesuatu barang dari pihak yang lain, sedangkan pihak yang satunya diwajibkan memenuhi tuntutan itu. Pihak yang berhak menuntut dinamakan pihak yang berpiutang atau kreditur, sedangkan pihak yang wajib memenuhi tuntutan dinamakan pihak yang berutang atau debitur. Adapun barang sesuatu yang dapat dituntut itu dinamakan “prestasi”, yang menurut Pasal 1234 KUH Perdata dapat berupa : 1. Menyerahkan suatu barang; 2. Melakukan suatu perbuatan; 3. Tidak melakukan suatu perbuatan. Mengenai sumber-sumber suatu perikatan bahwa perikatan dapat lahir dari suatu perjanjian atau dari undang-undang. Berarti sudah jelas di sini bahwa telah terjadi perikatan antara Saudara dan pihak leasing. c. Sedangkan berakhirnya perikatan, sesuai Pasal 1381 KUH Perdata secara tegas menyebutkan sepuluh cara hapusnya perikatan. Cara-cara tersebut adalah: 1. Pembayaran. 2. Penawaran pembayaran tunai diikuti dengan penyimpanan atau penitipan (konsignasi). 3. Pembaharuan utang (novasi). 4. Perjumpaan utang atau kompensasi. 5. Percampuran utang (konfusio). 6. Pembebasan utang. 7. Musnahnya barang terutang. 8. Batal/ pembatalan. 9. Berlakunya suatu syarat batal. 10. Dan lewatnya waktu (daluarsa). d. Menjawab pertanyaan Saudara, terkait perikatan yang saudara lakukan dengan pihak leasing hanya bisa berakhir sesuai dengan Pasal 1381 KUH Perdata, dan dari pernyataan saudara bahwa pihak leasing tidak memberi opsi lain maka memang tidak ada pilihan lain selain memenuhi apa yang sudah diperjanjikan dalam perikatan yang saudara sudah buat dengan pihak leasing. Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.