Legal Smart Channel - Gaya Hidup Cerdas Hukum

  • Zainal

    Assalamu alaikum. Saya ingin bertanya apakah tanah warisan dari orang tua yang sudah dibagi ke anak anaknya dan sudah di atas namakan oleh penerima waris itu boleh dijual ke orang lain walaupun cuma beberapa meter, sedangkan orang tua masih hidup semua?

  • Dijawab Oleh -

    Oleh: RR. Yuliawiranti, S.H., C.N., M.H. (Penyuluh Hukum Ahli Madya). Berdasarkan permasalahan hukum yang disampaikan oleh klien, dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Bahwa dari data yang ada, tidak diketahui agama apa yang dianut oleh klien, oleh karena itu akan kami jelaskan dari sudut Hukum Waris Islam dan Hukum Waris Perdata Barat. 2. Bahwa sebagaimana diatur dalam Buku II Hukum Kewarisan, Bab I Ketentuan Umum, Pasal 171 huruf a Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam diatur pengertian: Hukum kewarisan adalah hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing. 3. Bahwa menurut Hukum Waris Islam, Rukun Waris terdiri dari 4 hal, yaitu: a. Warits/Ahli Waris: orang yang pada saat meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris, beragama Islam dan tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris. (Pasal 171 huruf c Kompilasi Hukum Islam) b. Muwarrits/Pewaris: orang yang pada saat meninggalnya atau yang dinyatakan meninggal berdasarkan putusan Pengadilan beragama Islam, meninggalkan ahli waris dan harta peninggalan. (Pasal 171 huruf b Kompilasi Hukum Islam) c. Adanya kematian d. Tirkah/Harta Peninggalan: harta yang ditinggalkan oleh pewaris baik yang berupa benda yang menjadi miliknya maupun hak-haknya. (Pasal 171 huruf d Kompilasi Hukum Islam) 4. Bahwa Hibah adalah pemberian suatu benda secara sukarela dan tanpa imbalan dari seseorang kepada orang lain yang masih hidup untuk dimiliki. (Pasal 171 huruf g Kompilasi Hukum Islam) 5. Bahwa Hukum waris perdata atau yang sering disebut hukum waris barat berlaku untuk masyarakat non muslim, termasuk warga negara Indonesia keturunan, baik Tionghoa maupun Eropa yang ketentuannya diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata). 6. Bahwa meskipun pengertian hukum waris tidak tercantum dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata), namun tata cara pengaturan hukum waris tersebut diatur oleh KUH Perdata. Menurut pakar hukum Indonesia, Prof. Dr. Wirjono Prodjodikoro (1976), hukum waris diartikan sebagai hukum yang mengatur tentang kedudukan harta kekayaan seseorang setelah pewaris meninggal dunia, dan cara-cara berpindahnya harta kekayaan itu kepada orang lain atau ahli waris. 7. Bahwa sama halnya dengan Hukum waris Islam, menurut Hukum waris perdata: Hibah adalah suatu perjanjian dengan mana si penghibah, di waktu hidupnya, dengan cuma-cuma dengan tidak dapat ditarik kembali, menyerahkan sesuatu benda guna keperluan si penerima hibah yang menerima penyerahan itu. (Pasal 1666 KUH Perdata) Undang-Undang tidak mengakui lain-lain hibah selain hibah-hibah diantara orang-orang yang masih hidup.(Prof. R. Subekti) 8. Bahwa berdasarkan hal tersebut di atas, suatu warisan terbuka setelah Pewaris/Muwarrits meninggal dunia, tetapi pada kasus yang disampaikan klien, bahwa orang tua klien masih hidup saat membagikan hartanya kepada anak-anaknya, sehingga ini merupakan Hibah, karena pemberiannya ketika pemilik harta yaitu orang tua masih hidup. 9. Bahwa berdasarkan Pasal 37 ayat (1) PP No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah diatur bahwa Peralihan hak atas tanah dan hak milik atas satuan rumah susun melalui jual beli, tukar menukar, hibah, pemasukan dalam perusahaan dan perbuatan hukum pemindahan hak lainnya, kecuali pemindahan hak melalui lelang, hanya dapat didaftarkan, jika dibuktikan dengan akta yang dibuat oleh PPAT yang berwenang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 10. Jadi dapat disimpulkan bahwa jika tanah sudah dihibahkan dari pemberi hibah kepada penerima hibah, maka hak atas tanah tersebut sudah beralih dari pemberi hibah kepada penerima hibah, sehingga penerima hibah dapat melakukan perbuatan hukum atas tanah tersebut termasuk untuk menjual kepada pihak lain. Demikian, semoga bermanfaat.