Legal Smart Channel - Gaya Hidup Cerdas Hukum



  • Hendry

    Saya mempunyai saudara An. Ahmad. Ahmad membeli mobil seharga Rp.180.000.000.(seratus delapan puluh juta rupiah) kepada penjual An.Tibron, Karna waktu itu ahmad hanya mempunyai uang Rp.80.000.000, (delapan puluh juta rupiah) maka BPKB mobil yang di beli tersebut di Lesing kan An penjual tibron, dengan pinjaman uang Rp.100.000.000 ( seratus juta rupiah), dengan cara di bayar cicilan perbulan lebih kirang Rp.4.500.000, (empat juta lima ratus ribu rupiah) lebih kurang selama 3 tahun oleh pembeli ahmad. Namun setelah berjalan 11 bulan mobil tersebut mengalami kecelakaan dan mengakibatkan sopir (ayah ahmad) meninggal dunia, sihinggal mobil tersebut di masuk kan ke bengkel guna perbaikan dan di jamin atau yang bayar kerusakan pihak leasing. Setelah mobil kembali bagus atau sudah di perbaiki mobil tersebut di jualkan oleh saudara tibron, tampa pengetahuan Ahmad. Sehingga uang yg di bayar kan oleh Pihak lesing lebih kurang Rp.46.600.000 (empat puluh enam juta enam ratus ribu rupiah) kepada tibron. Pertanyaaan..? # apakah saudara tibron sudah bisa dikatagorikan pelaku tindak pidana penggelapan karna saudara tibron dengan tampa ada musyawarah dengan ahmad, tibron sendiri sudah memjual mobil mobil tersebut. Nb. Waktu pembelian kendaraan mobil tersebut tidak ada dokumen pelimpahan hak jual beli atau pun kwitansi pembayaran namun hanya dengan saling kepercayaan antara tibron dan ahmad. Namun uang yang Rp.80.000.000 di bayar melalui teler Bank dan ada bukti bahwa uang Rp.80.000.000 tersebutasuk ke rekening istri dari saudara tibron. Terima kasih sebelum nya. Wassm. Wr wb.

  • Dijawab Oleh -

    Di jawab oleh Elsy Anthoneta Joltuwu, S.H. Penyuluh Hukum Muda pada Badan Pembinaan Hukum Nasional Kami sudah membaca permasalahan yang Anda sampaikan, namun ada yang kurang jelas bagi kami dan menjadi pertanyaan, apakah mobil a/n. Tibron tersebut sudah lunas di pihak leasing? Namun kami mencoba menjawab sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan kami. Kasus yang dialami oleh Ahmad memang agak pelik karena merupakan tindak pidana penggelapan tetapi bisa juga merupakan penipuan namun kasus tersebut merupakan delik aduan sehingga korban (Ahmad) dapat mengajukan gugatan terhadap Tibron ke pihak kepolisian. Penggelapan diatur dalam Pasal 372 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang berbunyi “Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum memiliki barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain, tetapi yang ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan diancam karena penggelapan, dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah”. Tindak pidana penggelapan (verduistering) dalam bentuk pokok diatur dalam Pasal 372 KUHP mempunyai unsur-unsur sebagai berikut: 1) Unsur subjektif : dengan sengaja 2) Unsur objektif : - Barangsiapa - Menguasai secara melawan hukum - Suatu benda - Sebagian atau seluruh - Berada padanya bukan karena kejahatan. Unsur opzettelijke atau dengan sengaja merupakan satu-satunya unsur subjektif dalam tindak pidana penggelapan yakni unsur yang melekat pada subjek tindak pidana ataupun yang melekat pada diri pelakunya oleh sebab itu unsur opzettelijke atau dengan sengaja merupakan unsur dari tindak pidana penggelapan yang dengan sendirinya unsur tersebut harus didakwakan terhadap seorang terdakwa yang juga harus dibuktikan di sidang pengadilan yang memeriksa perkara terdakwa. Sementara itu penipuan diatur dalam pasal 378 KUHP berbunyi Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat, ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang, diancam karena penipuan dengan pidana penjara paling lama empat tahun.Dilihat dari obyek dan tujuannya, penipuan lebih luas dari penggelapan. Jika penggelapan terbatas pada barang atau uang, penipuan termasuk juga untuk memberikan hutang maupun menghapus piutang. Dalam perkara-perkara tertentu, antara penipuan, penggelapan agak sulit dibedakan secara kasat mata. Sebagai contoh, si X hendak menjual mobil miliknya. Mengetahui hal tersebut Y menyatakan kepada X bahwa ia bisa menjualkan mobil X ke pihak ketiga. Setelah X menyetujui tawaran Y, kemudian ternyata mobil tersebut hilang. Dalam kasus seperti ini, peristiwa tersebut dapat merupakan penipuan namun dapat juga merupakan penggelapan. Termasuk sebagai penipuan jika memang sejak awal Y tidak berniat untuk menjualkan mobil X, namun memang hendak membawa kabur mobil tersebut. Termasuk sebagai penggelapan jika pada awalnya memang Y berniat untuk melaksanakan penawarannya, namun di tengah perjalanan Y berubah niat dan membawa kabur mobil X. Demikian jawaban dari kami, kurang lebihnya kami mohon maaf dan semoga dapat membantu. Disclaimer : Jawaban konsultasi hukum semata-mata hanya sebagai pendapat hukum dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat sebagaimana putusan pengadilan. Dasar Hukum: Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)