Legal Smart Channel - Gaya Hidup Cerdas Hukum

  • 29 Maret 2019

    umar

    ayah saya beberapa Kali terpergok oleh saya memukul ibu saya. sebagai anak APA yg perlu saya lakukan? apakah Ada perlindungan bagi says kalau Hal tersebut saya laporkan ke polisi?

  • 6 Mei 2019

    Dijawab Oleh -

    Dijawab oleh Penyuluh Hukum Muda, Elsy Anthoneta Joltuwu, S.H. Bahwa perlakuan pemukulan yang dilakukan oleh ayah anda kepada ibu anda, merupakan salah satu bentuk tindak pidana kekerasan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT). Menurut Pasal 1 angka 1 UU PKDRT, definisi Kekerasan Dalam Rumah Tangga diartikan sebagai berikut: “Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.” Tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga salah satunya adalah kekerasan fisik yang mengakibatkan rasa sakit serta kekerasan psikis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dan 6 UU PKDRT: Pasal 5 UU PKDRT: “Setiap orang dilarang melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap orang dalam lingkup rumah tangganya dengan cara: a. Kekerasan fisik; b. Kekerasan psikis; c. Kekerasan seksual; atau d. Penelantaran rumah tangga” Pasal 6 UU PKDRT: “Kekerasan fisik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat.” Sanksi pidana untuk tindak pidana kekerasan fisik diatur dalam Pasal 44 UU PKDRT: Pasal 44 UU PKDRT: (1) Setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp 15.000.000,00 (lima belas juta rupiah). (2) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan korban mendapat jatuh sakit atau luka berat, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun atau denda paling banyak Rp 30.000.000,00 (tiga puluh juta rupiah). (3) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mengakibatkan matinya korban, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun atau denda paling banyak Rp 45.000.000,00 (empat puluh lima juta rupiah). (4) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh suami terhadap isteri atau sebaliknya yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau kegiatan sehari-hari, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) bulan atau denda paling banyak Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah). Perlu anda ketahui bahwa tindak pidana kekerasan fisik merupakan delik aduan berdasarkan Pasal 51 UU PKDRT: Pasal 51 UU PKDRT: “Tindak pidana kekerasan fisik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (4) merupakan delik aduan” Pasal 26 UU PKDRT : (1) Korban berhak melaporkan secara langsung kekerasan dalam rumah tangga kepada kepolisian baik di tempat korban berada maupun di tempat kejadian perkara. (2) Korban dapat memberikan kuasa kepada keluarga atau orang lain untuk melaporkan kekerasan dalam rumah tangga kepada kepolisian baik di tempat korban berada maupun di tempat kejadian perkara. Maka,tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam perkara ibu anda tersebut adalah merupakan delik aduan, yang berarti, tindak pidana tersebut hanya bisa diproses apabila ada pengaduan dari orang yang menjadi korban tindak pidana dimaksud, atau keluarga/orang lain yang diberikan kuasa oleh korban. Dalam delik aduan, korban tindak pidana dapat mencabut laporannya kepada pihak yang berwenang apabila di antara mereka telah terjadi suatu perdamaian dan bersedia mencabut laporannya. Selanjutnya terhadap orang yang melihat, mendengar dan mengetahui terjadinya tindak pidana KDRT wajib melakukan upaya-upaya sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 15 UU PKDRT sebagai berikut: “Setiap orang yang mendengar, melihat, atau mengetahui terjadinya kekerasan dalam rumah tangga wajib melakukan upaya-upaya sesuai dengan batas kemampuannya untuk: a. Mencegah berlangsungnya tindak pidana; b. Memberikan perlindungan kepada korban; c. Memberikan pertolongan darurat; dan d. Membantu proses pengajuan permohonan penetapan perlindungan”. Namun demikian, sebelum Anda melaporkan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh orang tua Anda kepada pihak berwajib, kami menyarankan agar cara-cara kekeluargaan dikedepankan. Terlepas dari sanksi pidana yang mengancam ayah anda, jalur pidana hendaknya dijadikan upaya terakhir (ultimum remedium) setelah upaya perdamaian telah dilakukan. Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat. Dasar Hukum: Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga;