Legal Smart Channel - Gaya Hidup Cerdas Hukum

  • keyzha

    malam Pa saya mau nanya kaLau ada maLing umur 17tahun ketangkap terus dipukuL,apakah yang mukuLin kena pidana enggak..??? terus keLuarga maLinG menuntut aLasannya karena masih dibawah umur kaLau dibawah dipengadiLan siapakah yang bersaLah ?? mohon keterangan Pa .. terima kasih

  • Dijawab Oleh -

    Febi Ardhianti (Penyuluh Hukum). Terima kasih atas pertanyaan saudara kepada kami Badan Pembinaan Hukum Nasional Terkait pertanyaan tentang anak berusia 17 tahun yang melakukan pencurian dan dipukul, sebelum kami menjawab pertanyan saudara, kami akan menjelaskan tentang anak yang melakukan tindak pidana dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak pasal 1 ayat 3 yang berbunyi “Anak yang Berkonflik dengan Hukum yang selanjutnya disebut Anak adalah anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana.” Selanjutnya akan kami jelaskan Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak pasal 1 ayat 1 yang berbunyi “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan” Maka dapat kami simpulkan berdasarkan penjelasan di atas bahwa yang malakukan pencurian adalah anak dibawa umur berdasarkan UU SPPA dan UU Perlindungan Anak. Berdasarkan pertanyaan saudara tentang anak yang melakukan pencurian lalu dipukul, apakah yang memukulin kena pidana? Bedasarkan UU Perlindungan anak pasal 16 yang berbunyi sebagai berikut : “ 1. Setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari sasaran penganiayaan, penyiksaan, atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi. 2. Setiap anak berhak untuk memperoleh kebebasan sesuai dengan hukum. 3. Penangkapan, penahanan, atau tindak pidana penjara anak hanya dilakukan apabila sesuai dengan hukum yang berlaku dan hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir. Kami selanjutnya akan menjelaskan mengenai hukuman bagi pelaku kejahatan kepada anak sesuai dengan UU Perlindungan Anak pasal 80 yang berbunyi sebagai berikut : 1. Setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp 72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah). 2. Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) luka berat, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). Bedasarkan penjelasan pasal di atas maka pelaku korban penganiaan anak dibawa umur mendapatkan hukuman pidana walau pun anak tersebut melakukan tindak pidana. Selanjutnya akan kami jelaskan perbuatan pembelaan/ membela diri, seseorang tidak dapat dihukum karena melakukan perbuatan pembelaan darurat untuk membela diri atau orang lain atau hartanya dari serangan atau ancaman yang melawan hukum. Hal ini diatur dalam Pasal 49 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”) yang berbunyi sebagai berikut: 1. Tidak dipidana, barang siapa melakukan perbuatan pembelaan terpaksa untuk diri sendiri maupun untuk orang lain, kehormatan kesusilaan atau harta Benda sendiri maupun orang lain, karena ada serangan atau ancaman serangan yang sangat dekat pada saat itu yang melawan hukum. 2. Pembelaan terpaksa yang melampaui batas, yang langsung disebabkan oleh keguncangan jiwa yang hebat karena serangan atau ancaman serangan itu, tidak dipidana. Pasal 49 KUHP tersebut mengatur mengenai perbuatan “pembelaan darurat” atau “pembelaan terpaksa” (noodweer) untuk diri sendiri maupun untuk orang lain, kehormatan kesusilaan atau harta benda sendiri maupun orang lain, karena ada serangan atau ancaman serangan yang sangat dekat. Menurut pasal ini, orang yang melakukan pembelaan darurat tidak dapat dihukum. Pasal ini mengatur alasan penghapus pidana yaitu alasan pembenar karena perbuatan pembelaan darurat bukan perbuatan melawan hukum. Syarat-syarat pembelaan darurat menurut R. Soesilo dalam buku “Kitab Undang-Undang Hukum Pidana serta Komentar-Komentar lengkap Pasal Demi Pasal” (hal. 65-66), yaitu: 1. Perbuatan yang dilakukan itu harus terpaksa dilakukan untuk mempertahankan (membela). Pertahanan itu harus amat perlu, boleh dikatakan tidak ada jalan lain. Di sini harus ada keseimbangan yang tertentu antara pembelaan yang dilakukan dengan serangannya. Untuk membela kepentingan yang tidak berarti misalnya, orang tidak boleh membunuh atau melukai orang lain. 2. Pembelaan atau pertahanan itu harus dilakukan hanya terhadap kepentingan-kepentingan yang disebut dalam pasal itu yaitu badan, kehormatan dan barang diri sendiri atau orang lain. 3. Harus ada serangan yang melawan hak dan mengancam dengan sekonyong-konyong atau pada ketika itu juga Contoh kasus (Pasal 49 ayat [1] KUHP) yaitu seorang pencuri mengambil barang orang lain, kemudian si pencuri menyerang orang yang punya barang tersebut dengan pisau belati atau senjata tajam lainnya, maka si pemilik barang dapat melawan untuk mempertahankan barang dan nyawanya. Pemilik barang itu boleh melawan untuk mempertahankan diri dan barangnya yang dicuri itu, sebab si pencuri telah menyerang dengan melawan hak. Tapi, jika si pencuri dan barangnya itu telah tertangkap, maka pemilik barang tidak boleh memukuli pencuri itu, karena pada waktu itu sudah tidak ada serangan sama sekali dari pihak pencuri, baik terhadap barang maupun orangnya. +pembakaran, dsb). Bedasarkan Pasal 351 KUHP dan Pasal 170 KUHP dapat kami jelaskan sebagai berikut : a. Pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan Dalam penjelasan Pasal 351 KUHP, penganiayaan diartikan sebagai perbuatan dengan sengaja yang menimbulkan rasa tidak enak, rasa sakit atau luka. (Hal ini dapat diancamkan atas tindakan main hakim sendiri yang dilakukan terhadap orang yang mengakibatkan luka atau cidera.) b. Pasal 170 KUHP tentang Kekerasan Dalam penjelasan Pasal 170 KUHP, kekerasan terhadap orang maupun barang yang dilakukan secara bersama-sama, yang dilakukan di muka umum seperti perusakan terhadap barang, penganiayaan terhadap orang atau hewan, melemparkan batu kepada orang atau rumah, atau membuang-buang barang sehingga berserakan. (Hal ini dapat diancamkan atas tindakan main hakim sendiri yang dilakukan di depan umum.) Pertanyaan anda selanjutnya kepada kami tentang jika keluarga maling menuntut alasanya karena maling (yang dipukuli) tersebut masih dibawa umur kalau dibawa kepegadilan siapa yang bersalah ? Jadi dapat kami jelaskan perbuatan yang saudara tanyakan termasuk tindakan main hakim sendiri sesuai dengan penjelasan pasal diatas. Kami menyayangkan tindakan pemukulan (main hakim sendiri) apalagi korbannya anak di bawa umur seharusnya pencurian tersebut dapat dilaporkan ke pihak yang berwajib tanpa harus main hakim sendiri. Bedasarkan pertanyaan saudara tentang siapa yang bersalah, dapat kami jelaskan yang menentukan siapa yang bersalah itu adalah hakim melalui proses peradilan . Demikian penjelasan tentang permasalahan hukum saudara, semoga dapat bermanfaat dan membantu. (Jawaban konsultasi hukum semata – mata hanya sebagai pendapat hukum dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat sebagai mana dengan putusan pengadilan)