Legal Smart Channel - Gaya Hidup Cerdas Hukum

  • 8 Februari 2019

    yani

    apakah ada hukum pidana untuk suami yang menikah lagi tanpa sepengetahuan istri?

  • 7 Maret 2019

    Dijawab Oleh -

    Sudaryadi, S.Ag., S.H., M.Si. (Penyuluh Hukum). Terima kasih telah menghubungi kami Terkait pertanyaan Saudari dalam pasal 279 menjelaskan: Ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dihukum penjara selama-lamanya 5 tahun: a. Barangsiapa yang kawin sedang diketahuinya, bahwa perkawinannya yang sudah ada menjadi halangan yang sah baginya akan kawin lagi. b. Barangsiapa yang kawin, sedang diketahuinya bahwa perkawinan yang sudah ada dari pihak yang lain itu menjadi halangan yang sah bagi pihak yang lain itu akan kawin lagi. Bahwa orang yang bersalah karena melakukan perbuatan yang diterangkan pada huruf (a) menyembunyikan kepada pihak yang lain, bahwa perkawinannya yang sudah ada itu menjadi halangan yang sah akan kawin lagi, dihukum penjara selama-lamanya 7 (tujuh) tahun. Suami yang ingin menikah lagi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan menjelaskan sebagai berikut: a. pasal (3) ayat (1) menjelaskan, pada asasnya dalam suatu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang isteri. Seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami. ayat (2) “pengadilan dapat memberikan izin kepada seorang suami untuk beristri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh fihak-fihak yang bersangkutan. b. Pasal 4 menjelaskan ayat (1) dalam hal seorang suami akan beristri lebih dari seorang sebagaimana tersebut tesebut dalam pasal (3) ayat (2) maka wajib mengajukan permohonan kepada pengadilan di daerah tempat tinggalnya. Ayat (2) pengadilan yang dimaksud dalam ayat (1) ini hanya memberikan izin kepada seorang suami yang akan beristri lebih dari seorng apabila: 1. Istri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai istri; 2. Istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan; 3. Istri tidak dapat melahirkan keturunan; c. Pasal 5 “untuk mengajukan permohonan kepada Pengadilan sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1. Adanya persetujuan dari isteri/isteri-isteri; 2. Adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan-keperluan hidup isteri-isteri dan anak-anak mereka. 3. Adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri dan anak-anak mereka. Terkait pertanyaan Saudari telah terbit Surat Edaran Mahkamah Agung No.4 Tahun 2016 tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung 2016 sebagai pedomana pelaksanaan Tugas Pengadilan yang menyatakan sebagai berikut: “bahwa perkawinan yang dilangsungkan oleh seorang suami dengan perempuan lain sedangkan suami tersebut tidak mendapatkan izin isteri untuk melangsungkan perkawinan lagi, maka pasal 279 KUHPidana dapat diterapkan” Dari penjelasan pasal-pasal tersebut di atas apabila seorang suami ingin menikah lagi maka harus ada syarat-syarat yang harus dipenuhi sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, dan apabila seorang suami menikah tanpa izin atau tanpa sepengetahuan isteri maka dapat dikenakan pidana sesuai dengan pasal 279 Kitab Undang-Undang Pidana, tetapi pada prakteknya, penerapan pasal 279 KUHPidana di Pengadilan tergantung oleh kemandirian hakim dalam memutuskan. Demikian jawaban kami, semoga bermanfaat.