Legal Smart Channel - Gaya Hidup Cerdas Hukum

  • 6 November 2018

    Aris tiyanto

    Permisi, saya mau menanyakan soal kasus perceraian saya dengan istri saya. Saya sudah di gugat cerai oleh istri saya, dengan alasan yang kurang nyata dalam kehidupan kita. Setelah saya selidiki, saya mendapat bukti digital bahwa istri saya sudah memiliki pacar.. Mohon bantuan untuk menyelesaikan masalah saya ini. Kl masalah cerai biarkan berjalan, karna istri saya sudah tidak layak untuk di pertahan kan. Mohon bantuan untuk menyelesaikan kasus perselingkuhan istri saya

  • 7 November 2018

    Dijawab Oleh -

    Di Jawab Oleh Feby Ardiyanti (Penyuluh Hukum Badan Pembinaan Hukum Nasional) Terima kasih atas pertanyaan saudara. Saudara Aris tiyanto, Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) memang tidak diatur secara khusus mengenai istilah perselingkuhan. Tetapi pasal 284 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) secara eksplisit menyebutkan kata “zina”. Zina didefiniskan sebagai Perbuatan bersenggama antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat oleh hubungan perkawinan (pernikahan) atau Perbuatan bersenggama seorang laki-laki yang terikat perkawinan dengan seorang perempuan yang bukan istrinya, atau seorang perempuan yang terikat perkawinan dengan seorang laki-laki yang bukan suaminya. Menurut Pasal 284 ayat (1) angka 1 huruf b KUHP, pelakunya diancam pidana penjara paling lama sembilan bulan. Perbuatan perzinahan/perselingkuan adalah merupakan delik aduan yang hanya dapat dituntut jika ada pengaduan dari pihak yang mempunyai hak untuk mengadukan hal tersebut. Menurut Undang-Undang ITE No.11 Tahun 2008 sebagaimana telah di ubah dengan Undang- Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik pada pasal 5 ayat (1), Pasal 27,Pasal 36, dan Pasal 51 ayat (2) menyebutkan: • Pasal 5 ayat (1) yang berbunyi “Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya merupakan alat bukti hukum yang sah” • Pasal 27 ayat (1) yang berbunyi: “Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan” • Pasal 36 yang berbunyi: “Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 34 yang mengakibatkan kerugian bagi Orang lain” • Pasal 51 ayat (2) yang berbunyi : “Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp12.000.000.000,00 (dua belas miliar rupiah).” Dari bukti digital yang anda miliki, tidak ada penjelasan lebih lanjut tentang isi digital apakah mengandung unsur sebagai mana disebut dalam KUHP. Bedasarkan penjelasan pasal di atas, bukti digital yang anda miliki merupakan bukti yang sah di mata hukum. Tetapi jika memang hasil isi digital pasangan saudara melanggar kesusilaan dan menimbulkan kerugian kepada saudara yang mengakibatkan keretakan dalam rumah tangga, maka pasangan saudara dapat di jerat dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elekronik (ITE) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik . Berikut akan saya jelaskan tentang kesusilaan, kesusilaan adalah sebagai bentuk penyimpangan/ kejahatan, karena bertentangan dengan hukum dan norma-norma yang hidup dimasyarakat. Perkataan, tulisan, gambar, dan perilaku serta produk atau media-media yang bermuatan asusila dipandang bertentangan dengan nilai moral dan rasa kesusilaan masyarakat. Sifat asusila yang hanya menampilkan sensualitas, seks dan eksploitasi tubuh manusia. Dan pasangan saudara juga dapat dijerat dengan KUHP Pasal 284 ayat (1) angka 1 huruf b, pelakunya diancam pidana penjara paling lama 9 (Sembilan) bulan. Demikian jawaban saya semoga dapat bernanfaat.