Legal Smart Channel - Gaya Hidup Cerdas Hukum

  • 3 Juni 2018

    kharisa

    Halo. Saya masih jauh dari menguasai dunia hukum dan saya sangat penasaran tentang hukum jual beli hewan peliharaan seperti yang sangat umum kucing dan anjing. Dunia bisnis jual beli hewan yang saya tahu sangat kejam, baca dari berbagai artikel dan bukti. Mereka memaksa betina untuk mereproduksi dan jika tidak dibutuhkan lagi akan dilelang atau dibunuh. Tentu saja itu sudah melanggar hukum. Yang saya ingin pertanyakan apakah ada hukum yang melarang jual beli hewan peliharaan tanpa harus melihat pandangan si pemilik bisnis hewan tersebut melanggar atau tidak karena pada dasarnya menurut saya secara manusiawi dan psikologi 1) hewan peliharaan merupakan hewan yang bebas memiliki hak hidup seperti manusia 2) hewan peliharaan butuh kasih sayang dan interaksi dengan hewan lain bukannya hanya dikurung 3) hewan peliharaan bukan hewan penghibur manusia 4) hewan peliharaan sama dengan hewan liar lainnya.

  • 6 November 2018

    Dijawab Oleh -

    Dijawab oleh Penyuluh Hukum Ahli Madya Drs. Abdullah,S.H. . Berdasarkan permasalahan hukum yang dikemukakan klien, adakah peraturan yang mengatur mengenai jual beli hewan peliharaan? Bagaimanakah aturan hukum bagi penganiaya hewan?, dapat dijelaskan sebagai berikut : Praktek jual beli hewan itu dilarang, apabila hewan yang diperjual belikan itu termasuk hewan yang dilindungi. Penjelasan : Pasal 21 ayat (2) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, mengatur bahwa : Setiap orang dilarang untuk: a. menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup; b. menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati; c. mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia; d. memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia; e. mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan/atau sarang satwa yang dilindungi. Mengenai sanksi terhadap praktek jual beli hewan yang dilindungi, diatur dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya : Pasal 40 ayat (2) : Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000,00(seratus juta rupiah). (4) Barang siapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah). (5) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) adalah kejahatan dan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (4) adalah pelanggaran. Perlindungan terhadap hewan itu karena Satwa adalah bagian dari sumber daya alam yang tidak ternilai harganya sehingga kelestariannya perlu dijaga, oleh karena itu terdapat hewan yang dilindungi. Hewan apa sajakah yang dilindungi itu? Hewan yang dilindungi diatur dalam Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, dan dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan Dan Satwa Yang Dilindungi, Berita Negara No.880, 2018. Namun demikian diberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memelihara hewan. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999, bahwa Pemeliharaan hewan itu dapat dilakukan di dalam habitatnya dan di luar habitatnya. Pemeliharaan hewan diluar habitatnya diatur dalam Pasal 8 : Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa dilakukan melalui kegiatan pengelolaan di dalam habitatnya (in situ). Dalam mendukung kegiatan dimaksud dilakukan kegiatan pengelolaan di luar habitatnya (ex situ) untuk menambah dan memulihkan populasi. Pengelolaan jenis tumbuhan dan satwa di luar habitatnya (ex situ) dilakukan dalam bentu kegiatan: a. Pemeliharaan; b. Pengembangbiakan; c. Pengkajian, penelitian dan pengembangan; d. Rehabilitasi satwa; e. Penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa. Pasal 15 ayat (3) Pemeliharaan jenis di luar habitat wajib memenuhi syarat: a. memenuhi standar kesehatan tumbuhan dan satwa; b. menyediakan tempat yang cukup luas, aman dan nyaman; c. mempunyai dan mempekerjakan tenaga ahli dalam bidang medis dan pemeliharaan. Pasa Mengenai permasalahan penganiayaan terhadap hewan, peraturan melarang menganiaya hewan. Hal itu diatur dalam Undang-undang Nomor 41 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Pasal 66A : Setiap Orang dilarang menganiaya dan/atau menyalahgunakan Hewan yang mengakibatkan cacat dan/atau tidak produktif. Setiap Orang yang mengetahui adanya perbuatan sebagaimana dimaksud wajib melaporkan kepada pihak yang berwenang.” Mengenai sanksi, diatur dalam Pasal 91B : (1) Setiap Orang yang menganiaya dan/atau menyalahgunakan Hewan sehingga mengakibatkan cacat dan/atau tidak produktif dipidana dengan pidana kurungan paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 6 (enam) bulan dan denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah). (2) Setiap Orang yang mengetahui adanya perbuatan sebagaimana dimaksud dan tidak melaporkan kepada pihak yang berwenang dipidana dengan pidana kurungan paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 3 (tiga) bulan dan denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah). Pasal di dalam KUHP yang mengatur mengenai masalah penganiayaan terhadap hewan diatur dalam Pasal 302 ayat (1), Diancam dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah karena melakukan penganiayaan ringan terhadap hewan: Ke-1. Barangsiapa tanpa tujuan yang patut atau secara melampaui batas, dengan sengaja menyakiti atau melukai atau merugikan kesehatannya; Ke-2. Barangsiapa tanpa tujuan yang patut atau dengan melampaui batas yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu, dengan sengaja tidak memberi makan yang diperlukan untuk hidup kepada hewan, yang seluruhnya atau sebagian menjadi kepunyaannya dan ada di bawah pengawasannya, atau kepada hewan yang wajib dipeliharanya.