Legal Smart Channel - Gaya Hidup Cerdas Hukum

  • 22 Mei 2018

    Milda Septianti

    Selamat siang Pak. Nama saya Milda Septianti 24 tahun. Saya tinggal di Cimahi, Jawa Barat. Saya ingin bertanya mengenai pembagian hak waris. Sebelumnya saya ingin bercerita mengenai awal mula konflik yang kini sedang dialami oleh ibu saya. Dulu Kakek saya menikah dengan nenek saya dan memiliki satu anak perempuan; ibu saya. Lalu bercerai dan kakek saya menikah lagi dengan perempuan dan tidak memiliki anak. Karena tidak memiliki anak, maka keduanya memutuskan untuk mengasuh keponakan mereka. Bahkan menikahkan keduanya. Ibu saya sejak kecil diasuh oleh ibunya yaitu nenek saya. Dan yang tinggal setelah Kakek saya meninggal tahun 2003 di rumah yang sedang menjadi konflik adalah ibu tiri dan keponakannya yang tadi saling dinikahkan. Pada tahun 2003, kakek meninggal. Sedangkan ibu tiri tidak ingin membagi rumah tersebut. Lalu mereka memberi ibu saya sejumlah uang (15juta) dan meminta tandatangan ibu saya pada kertas kosong. Tahun 2014, ibu tiri meninggal. Dan yang tinggal dirumah itu sampai sekarang adalah keponakan. Mereka tidak ingin keluar dari rumah itu. Saya ingin tahu bagaimana pembagian sebenarnya rumah tersebut? Karena ibu saya yang saat ini sudah memiliki pengacara malah mengatakan kalau bagian ibu saya hanya sedikit. Bahkan mengatakan kalau keponakan itu sudah otomatis bisa disebut jadi anak angkat dan mendapat bagian yang lebih besar. Juga mengatakan kalau ibu saya harus mengganti uang 15 juta tersebut. Sedangkan sebagian harta yang ada (mobil, sejumlah becak) telah dijual si keponakan. Dan sebagian lahan mereka sewakan pada orang lain. Saya bingung. Karena pengacara tersebut seperti memihak kepada keponakan kakek saya alih-alih ibu saya. Bahkan besok keduanya akan bertemu tanpa kehadiran ibu saya. Lalu apakah pewaris pengganti (dari 2 saudari ayah dari ibu saya (kini telah meninggal 2001 dan 2013)) mendapat bagian? Mohon penjelasannya secara hukum. Terima kasih.

  • 28 September 2018

    Dijawab Oleh -

    DIjawab oleh Penyuluh Hukum Ahli Muda Azhari, SH, MH Klain Yang terhormat : Berkenaan dengan pertanyaan anda, saya akan mencoba menjawab dengan sepengetahuan saya. Sebelumnya saya akan menyampaikan pengertian dari cerai. Cerai adalah berakhirnya suatu pernikahan saat kedua pasangan tak ingin melanjutkan kehidupan pernikahannya. Oleh karena kakek dan nenak sudah bercerai berarti sudah tidak ada lagi hubungan oleh karena itu mereka tidak saling mewarisi. Sedangkan hukum waris mewarisi baru akan terlaksanan ketika ada yang meninggal, dan yang meninggal tersebut meninggalkan harta, maka harta yang yang ditinggalkan itu disebut harta warisan yang harus segera dibagikan kepada ahli waris. Dalam kasus yang saudari Milda Saptiani ceritakan, sesuai dengan firman Allah dalam Al-Quran Seorang anak perempuan. "Dan jika (anak perempuan itu hanya) seorang, maka ia dapat separuh." (QS An Nisaa’: 11). Dan apabila antara kakek dan nenek telah bercerai maka ibu anda hanya mendapat ¼ sesuai dengan Firman-Nya: "Tetapi jika mereka meninggalkan anak, maka kamu dapat seperempat dari harta yang mereka tinggalkan." (QS An Nisaa’: 12). Sedangkan keponakannya hanya mendapat 1/8 dari warisan yang ditinggalkan, akan tetapi ababila ada wasiat sebelum kakek meninggal, maka wasiatlah yang akan berlaku. Demikian juga yang berlaku dalam pembagian warisan dalam islam, untuk seorang cucu juga pendapat warisan yaitu 1/6 dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal (kakek). Mengenai harta gono gini (harta bersama selama pernikahan) kadang menimbulkan masalah bagi beberapa pihak yang mengalami penceraian, pembagian pun dianggap tidak adil bagi salah satu pihak. Dalam pasal 37 Undang-undang Perkawinan tahun 1974 tidak menetapkan secara tegas mengenai pembagian bagi suami atau isteri yang bercerai, pasal 37 ayat (1) menyebutkan bahwa pembagian harta gono gini karena penceraian diatur menurut masing-masing. Yaitu hukum agama, hukum adat, dan hukum lainnya yang dianut oleh masing-masing pasangan, dengan demikian mungkin sebelum bercerai kakek dan nenek anda sudah terlebih dahulu melakukan pembagian harta yang disepakati, mungkin saja ibu anda tidak mengetahui dan tidak pernah nenek anda menceritakan hal ini kepada ibu anda. Demikian yang dapat kami sampaikan, mudah mudahan bermanfaat.