Legal Smart Channel - Gaya Hidup Cerdas Hukum

  • 12 Mei 2018

    fitri

    sy fitria winda. sy ingin bercerai. sy memiliki 1 anak umur 11 bulan. apakah sy bs mndapatkan hak asuh? s y takut tdk bisa. krn sblmnya wktu sy blm memiliki anak sy prnah selingkuh dari suami. apakah ini dapat memberatkan sy untuk dapatkan hak asuh? sy karyawan swasta. pengahasilam 5jt lebih perbln. sdgkn suami sy guru honorer dgn gaji 1 jt prbulan

  • 28 September 2018

    Dijawab Oleh -

    Dijawab oleh Penyuluh Hukum Ahli Madya Das Enlailatul Husna Dari uraian permasalahan saudari ingin bercerai namun tidak menjelaskan alasan apa yang membuat saudari untuk menggugat cerai. Sebelumnya kami jelaskan bahwa bila saudari ingin menggugat cerai harus mempunyai alasan yang cukup kuat, misal : - Suami melakukan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga); - Suami melanggar Ikrar Taklik Talak; - Suami selingkuh; - Suami merupakan pemabuk / penjudi; - Suami mendapat hukuman penjara minimal 5 (lima) tahun; - Tidak memberi nafkah lahir batin; - Hilangnya keberadaan suami ± 4 (empat) tahun. JAWAB : Jika orang tua bercerai : - Dengan siapa anak akan tinggal; - Bagaimana kebutuhan masa depan anak khususnya finansial. Hak asuh anak merupakan bentuk mengasuh anak yang belum mampu mengatur dan merawat diri sendiri. Menurut Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 tahun 1974 pasal 41, ”Bahwa salah satu dampak putusnya hubungan perkawinan adalah Ayah atau Ibu memiliki kewajiban memelihara dan mendidik anak”. Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 105 mengatakan dalam hal perceraian: - Pemeliharaan anak yang belum mumayyiz / belum 12 (dua belas) tahun adalah hak Ibunya; - Pemeliharaan anak yang sudah mumayyiz diserahkan kepada anak untuk memilih diantara Ayah / Ibunya sebagai hak pemeliharaan; - Biaya Pemeliharaan ditanggung Ayahnya. Namun bila perceraian dikabulkan karena istri berselingkuh, maka pengadilan perlu membuktikan kebenaran perselingkuhan tersebut. Jika terbukti istri melakukan perselingkuhan maka dirinya telah gagal menjadi seorang Ibu / istri. Dalam kasus ini khususnya tentang hak asuh anak, Majelis Hakim yang memeriksa dan memutuskan perkara akan mempertimbangkan kepentingan terbaik bagi anak berdasarkan kepada azas : - Non Diskriminasi; - Kepentingan terbaik bagi anak; - Hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan berkembang. Dari pertimbangan tersebut maka Majelis Hakim biasanya akan memutuskan bahwa hak asuh anak atas Ibunya yang terbukti melakukan perselingkuhan jatuh kepada Ayahnya.