Legal Smart Channel - Gaya Hidup Cerdas Hukum

  • 20 Februari 2018

    dayat

    Saya mempunyai anak laki-laki berumur 8 thun jln semenjak sya bercerai dengan istri ank saya ikut ibunya,setelah ibunya menikah lagi saya berniat untuk memiliki hak asuh secara penuh.Jadi menurut anda apa yg jarus saya lakukan???terima kasih

  • 4 Oktober 2018

    Dijawab Oleh -

    Dijawab oleh Penyuluh Hukum Ahli Madya Jawardi, S.H., M.H. Terima kasih atas pertanyaan saudara. Terkait keinginan saudara untuk memiliki hak asuh secara penuh terhadap anak sendiri yang berumur 8 tahun setelah terjadi perceraian dapat kami jelaskan sebagai berikut : Dalam kasus dimana terjadi perselisihan/perceraian seperti yang saudara sampaikan sebaiknya ditempuh dengan jalan musyawarah termasuk keinginan untuk hak mengasuh anak. Mengasuh anak sendiri merupakan kewajiban kedua orang tua anak walaupun sudah terjadi perceraian. Tetapi adakalanya keinginan orang tua untuk selalu bersama dengan anak tercintanya selalu ada, seperti keinginan dari saudara. Permohonan untuk mendapatkan Hak Asuh, bisa dicermati ketentuan pasal 41 huruf a, Undang-Undang No 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan pada bagian terakhir menyatakan bahwa ”bilamana ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak, pengadilan memberi keputusannya.” Dalam pasal 105 huruf (a) Kompilasi Hukum Islam (KHI) menyebutkan bahwa ”pemeliharaan anak yang belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya” itu berarti, pada dasarnya apabila terjadi perceraian, maka hak asuh anak untuk anak-anak yang belum dewasa (belum berumur 12 tahun jatuh ketangan ibu dari anak tersebut. Sedangkan jika anak tersebut sudah dewasa, maka diserahkan kepada keputusan anak tersebut apakah memilih bersama ibunya atau bersama ayahnya. Bagaimana jika seorang ayah ingin mendapatkan hak asuh anaknya yang berusia dibawah 12 tahun, seperti yang saudara inginkan ? Dalam pasal 156 huruf (c) Kompilasi Hukum Islam (KHI) disebutkan apabila pemegang hak asuh anak (hadhanah) ternyata tidak dapat menjamin keselamatan jasmani dan rohani anak, meskipun biaya nafkah dan hadhanah telah dicukupi, maka atas permintaan kerabat yang bersangkutan Pengadilan agama dapat memindahkan hak asuh anak (hadhanah) kepada kerabat lain yang mempunyai hak asuh anak (hadhanah) pula. Dengan demikian apabila saudara ingin mendapatkan hak asuh anak (hadhanah) maka saudara harus dapat membuktikan bahwa ibunya tidak dapat menjamin keselamatan jasmani dan rohani anak karena tabiat jelek ibunya dalam mendidik anak. Misalnya sering membentak anak, mencaci, menghina atau bahkan melakukan kekerasan scara fisik terhadap anak, atau ibunya memberikan contoh yang tidak baik bagi anak. Misalnya gaya hidup ibunya yang terlalu boros, tidak bermoral, dan lain sebagainya. Atau karena alasan lingkungan tempat tinggal ibunya yang tidak baik untuk perkembangan anak misalnya lingkungan prostitusi, narkoba dan sebagainya. Demikian penjelasan bagaimana cara memenangkan hak asuh anak setelah perceraian di Pengadilan Agama yang dapat kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.