Legal Smart Channel - Gaya Hidup Cerdas Hukum

  • 22 Januari 2018

    mpok

    maaf mas/mbak admin. kalo saya dipegang pas ketiduran di angkot termasuk pelecehan tidak? makasih

  • 29 November 2018

    Dijawab Oleh -

    Pelecehan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah proses, perbuatan, cara melecehkan. Sedangkan berdasarkan kata dasarnya, leceh menurut KBBI pengertiannya antara lain remeh; tidak berharga; buruk kelakuan; hina. Dalam kamus bahasa Inggris Merriam Webster, to harras diartikan sebagai 1. to annoy persistently 2. to create an unpleasant or hostile situation for especially by uninvited and unwelcome verbal or physical conduct Berdasarkan pernyataan Saudara/i, bahwa Saudara/i dipegang maka bila perbuatan tersebut menyebabkan situasi yang tidak menyenangkan, terlebih bila perbuatan tersebut dilakukan tanpa dikehendaki Saudara/i dan menimbulkan perasaan dilecehkan, maka perbuatan tersebut dapat dikatakan sebagai proses, perbuatan, cara melecehkan. Dalam hal suatu tindakan pelecehan berkenaan dengan jenis kelamin atau bersifat seksual barulah dapat disebut sebagai pelecehan seksual. Dari ruang lingkup kekerasan seksual, mengenal adanya pencabulan, yaitu segala perbuatan melanggar kesusilaan (kesopanan) atau perbuatan yang keji, semuanya itu dalam lingkungan nafsu birahi, misalnya: ciuman, meraba-raba bagian kemaluan, meraba-raba buah dada, dan termasuk pula bersetubuh. (R.Soesilo, 1995). Namun demikian, istilah pelecehan seksual sebenarnya tidak terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Kitab Undang-Undang Hukum Pidana hanya mengenal istilah perbuatan cabul. Perbuatan cabul diatur dalam Pasal 289 KUHP, yang berbunyi: “Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang melakukan atau membiarkan dilakukannya perbuatan cabul, dihukum karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan dengan pidana selama-selamanya sembilan tahun.” Perbuatan cabul diatur dalam Pasal 289 - Pasal 296 KUHP. Pasal 290 KUHP menyatakan: “Dihukum penjara selama-lamanya tujuh tahun: 1. Barangsiapa melakukan perbuatan cabul dengan seseorang, padahal diketahuinya bahwa orang itu pingsan atau tidak berdaya. 2. Barangsiapa melakukan perbuatan cabul dengan seseorang padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya, bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau umurnya tidak jelas, yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawin. 3. Barangsiapa membujuk seseorang yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau umurnya tidak jelas yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawin, untuk melakukan atau membiarkan dilakukannya perbuatan cabul atau bersetubuh di luar perkawinan dengan orang lain.” KUHP mengatur juga mengenai pelanggaran kesusilaan, sebagaimana terdapat dalam Pasal 281 ayat (1) KUHP: “Diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah: 1. barang siapa dengan sengaja dan terbuka melanggar kesusilaan; 2. barang siapa dengan sengaja dan di depan orang lain yang ada di situ bertentangan dengan kehendaknya, melanggar kesusilaan.” Tindakan/perbuatan memegang Saudara/i bila berupa pelecehan seksual maka dapat dipidana berdasarkan Pasal 281 ayat (1) KUHP dengan ancaman pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Atau jika perbuatan tersebut dilakukan pada saat Saudara/i sedang pingsan atau tidak berdaya maka dapat dipidana berdasarkan Pasal 290 ke-1 KUHP dengan ancaman pidana penjara paling lama tujuh tahun.