Legal Smart Channel - Gaya Hidup Cerdas Hukum

  • 27 Desember 2017

    Muh. Arfan

    Kronologis : terjadi tabrakan sepeda motor, anak umur 15 tahun pulang sekolah balapan dan akhirnya menabrak ibu-ibu yg sedang membawa anaknya naik motor. Ibu itu meninggal, anaknya butuh perawatan. Sedangkan pelaku juga luka butuh perawatan. Pertanyaan : 1. Bgmn proses hukum terhadap pelaku tabrakan tersebut, soalnya pelaku masih dibawah umur dan juga luka?? 2. Apakah pelaku/keluarga pelaku wajib memberi ganti rugi yang menyebabkan seorang anak (umur 9 thn) jadi yatim krn kehilangan ibunya?? Klo iya.. bgmn proses penggantian rugi tersebut?? (Biaya Rumah sakit+operasi 36 juta. Biaya penguburan 12 juta. Biaya rawat jalan anak korban smentara baru 3 juta tapi msh terus bertambah karena harus terapi) 3. Kpn pelaku bisa mendapatkan hukumannya karena pelaku juga masih rawat jalan?? 4. Saksi mata mengatakan ibu itu berjalan pelan naik motor untuk belok masuk kerumahnya, tapi tiba-tiba ada anak sekolah balap-balapan dan menabrak sepeda motor ibu itu. Ibu dan anaknya terlepar dan dilarikan ke Rmh sakit begitu pula dgn anak sekolah(pelaku) itu. 4 hari setelah pasca operasi ibu tersebut meninggal, anaknya ada keretakan ditengkorak kepalanya, sehingga perlu terapi (rawat jalan). Sedangkan pelaku (anak sekolah) itu juga menjalani rawat jalan.

  • 13 Februari 2018

    Dijawab Oleh -

    Dijawab oleh Penyuluh Hukum Ahli Madya Ratiyo BG, S.H. Jawaban : Yth. Sdr. Muh Arfan Setelah saya membaca dan simak kasus Lakalantas yang Saudara ajukan, saya cukup mengerti dan saya akan coba menjawab sesuai dengan kemampuan yang saya miliki, disamping kita saling sering pendapat saja. 1. Proses hukum pelaku tabrakan sepeda motor adalah pelaku masih dibawah umur (anak umur 15 tahun) dan juga luka ! Adalah suatu kesalahan pelaku penabrak dan melanggar hukum tentang UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Kesalahan Pertama; adalah Pelaku penabrak mengendarai sepeda motor tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) karena masih dibawah umur (Pasal 77); Kesalah kedua, Pelaku mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi berbalapan di jalan, bukan pada tempatnya (Pasal 115); Kesalahan Ketiga, karena kelalaian mengendarai sepeda motor, mengakibatkan terjadinya kecelakaan lalulintas berat (ada korban jiwa dan luka berat) dan kecelakaan lalu lintas ringan (rawat jalan) Pasal 229 dan Pasal 230; 2. Karena kesalahan pelaku penabrak masih dibawah umur, maka keluarga pelaku wajib memberikan bantuan kepada ahli waris korban (meninggal dan dirawat) biaya pengobatan dan/atau biaya pemakaman dengan tidak menggugurkan tuntutan perkara pidana (Pasal 235); Kemudian Pihak yang menyebabkan terjadinya kecelakaan lalulintas wajib memberi ganti kerugian yang besarnya ditentukan berdasarkan Putusan Pengadilan (Pasal 236). - Perlu saya sampaikan pula bahwa bagi korban yang tertabrak, bisa mendapatkan jaminan asuransi dari pihak jasa raharja, dengan catatan harus membuat laporan kasus kejadian di kantor kepolisian setempat dan mendapat Surat Keterangan selanjutnya laporan surat keterangan ditindaklanjuti oleh pihak Jasa Raharja sebagai perusahaan penjaminan asuransi kecelakaan. Dimana Asuransi tersebut didapat dari sumbangan wajib pemilik kendaraan yang setiap tahunnya membayar STNK dan atau SIM, maka secara otomatis mereka tercatat mengikuti asuransi dari jasa raharja tersebut. 3. Kemudian bagi pelaku penabrak karena masih dibawah umur (anak umur 15 Tahun) dan masih rawat jalan, maka dapat dikatagorikan masuk dalam kasus Pidana, berdasarkan (Pasal 1 angka (2), (3), angka(6), dan (7), UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. 4. Dari kasus-kasus yang terjadi tersebut di atas, maka langkah yang harus ditempuh, yaitu : 1. Dengan melakukan Keadilan Restoratif adalah penyelesaian perkara tindak pidana dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga pelaku/korban, dan pihak lain yang terkait untuk bersama-sama mencari penyelesaian yang adil dengan menekankan pemulihan kembali pada keadaan semula dan bukan pembalasan. 2. Dapat pula dilakukan dengan Proses Diversi : dengan melakukan musyawarah dengan melibatkan anak dan orang tua/Walinya, korban dan/atau orang tua/Walinya, pembimbing kemasyarakatan, dan pekerja sosial profesional berdasarkan pendekatan Restoratif. Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat.