Legal Smart Channel - Gaya Hidup Cerdas Hukum

  • 4 Desember 2017

    josua

    setnov sudaah ditahan oleh kpk tetapi mengapa ia tidak mau mundur dari jabatanya sebagai ketua dpr danketua umum golkar?

  • 29 Desember 2017

    Dijawab Oleh -

    Dijawab oleh Penyuluh Hukum Ahli Madya Drs. Abdullah, S.H. SN berhenti atau tidak dari jabatan sebagai ketua DPR, hal ini merujuk kepada Undang-undang Nomor17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dalam Pasal 87 ayat (1) menyebutkan bahwa Pimpinan DPR berhenti dari jabatannya karena: a. meninggal dunia; b. mengundurkan diri; atau c. diberhentikan. Selanjutnya Pasal 87 ayat (2) menyebutkan bahwa : Pimpinan DPR diberhentikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c apabila: a. tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap sebagai anggota DPR selama 3 (tiga) bulan berturut-turut tanpa keterangan apa pun; b. melanggar sumpah/janji jabatan dan kode etik DPR berdasarkan keputusan rapat paripurna setelah dilakukan pemeriksaan oleh Mahkamah Kehormatan DPR; c. dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih; d. diusulkan oleh partai politiknya sesuai dengan peraturan perundang-undangan; e. ditarik keanggotaannya sebagai anggota DPR oleh partai politiknya; f. melanggar ketentuan larangan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini; atau g. diberhentikan sebagai anggota partai politik berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. Demikian tata cara pemberhentian pimpinan DPR. Pertanyaan : Mengapa SN tidak mau mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum Golkar? Jawaban : Jawaban atas pertanyaan mengapa SN tidak mau mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum Golkar, hal ini adalah permasalahan internal partai Golkar, oleh karena itu jawaban atas permsalahan, dikembalikan kepada sikap SN dan sikap dari internal Partai Golkar. Sekian terima kasih, mohon maaf kalau ada kekurangan