Legal Smart Channel - Gaya Hidup Cerdas Hukum

  • 31 Oktober 2017

    pri

    Saya memberikan pinjaman kepada teman saya bernama A dengan alasan untuk bea renovasi rumah, bea pengobatan orang tua dan istrinya, dia berjanji dalam waktu 2-3 bulan akan mengembalikannya dengan bunga, saya bilang “ga usah pake bunga yang penting pokoknya saja”. Tetapi sampai saat ini menjelang dua tahun saat pinjaman tersebut tidak juga ada niat si A untuk mengembalikan pinjaman tersebut apalagi bunganya. Saya pernah juga kerumahnya di daerah Bekasi Timur dengan niat menagih hutang padanya dengan kronologis sbb : Penagihan pertama tanggal 09 Oktober 2016 sekitar pukul 11.00 WIB, tidak bertemu ybs, Cuma ketemu kakak, keponakan dan orang tuanya, karena tujuan saya Cuma silaturahmi maka mereka saya beri uang Rp. 200.000,- (Dua Ratus Ribu Rupiah) Penagihan kedua tanggal 28 Januari 2017 sekitar pukul 21.00 WIB ketemu ybs, kakak perempuan ybs marah-marah kepada istri saya dengan berbagai sumpah serapah. Si A menandatangani surat pernyataan akan membayar hutangnya lunas tanggal 28 Maret 2017, saya percaya yang bersangkutan masih mempunyai iktikad baik, makanya saya langsung pulang ke Tangerang dengan harapan dia tidak akan ingkar janji. Penagihan ketiga tanggal 15 Juli 2017 sekitar pukul 21.30 WIB saya menagih kembali ke rumah ybs di Bekasi tetapi dia tidak ada di tempat, saya tanya sama kakak & keponakannya tetapi jawabannya tidak ada, dia ada di Bogor, tapi saya gak di persilahkan masuk sama tuan rumah maka saya jadi marah suruh si A ketemu saya jangan pengecut, jangan jadi bajingan, setelah itu saya ke rumah RT setempat bermaksud untuk melapor kejadian tersebut, tetapi pak RT nya sedang keluar kota lalu saya balik lagi kerumah yang bersangkutan ketika itu saya dengar teriakan keponakan saya “Itu tuh orangnya …….eh jangan lari, ya mas orangnya kabur “ seraya berteriak, ternyata sdr A ada dan bermaksud untuk pulang ke rumahnya begitu melihat saya, dia langsung kabur. Saya tidak sempat untuk mengejarnya karena masih kaget dan tidak percaya ternyata sdr A seorang yang pengecut dan keluarganya pun berusaha untuk melindunginya. Saya berusaha telpon berkali-kali kepada si A tetapi dia tidak mau mengangkat telpon dari saya, saya juga berkali-kali sms kepadanya tapi juga tidak dibalas olehnya, dari kata-kata saya yang memohon sampai keluar kata-kata kotor dan menghina dia lewat sms dengan tujuan dia mau membayar hutangnya Yang saya tanyakan adalah : 1. Bagaimana caranya agar si A ini mau membayar hutangnya kepada saya 2. Apakah perbuatan si A dapat digolongan sebagai penipuan 3. Apakah dengan mengatakan dia ga punya uang, dia bisa bebas dari tuntutan hutang, sementara saya tahu dia hitudnya glamor, kerja aja bisa pakai mobil, pakaiannya pun bermerk, sedang saya bekerja pakai sepeda motor, pakaian biasa aja. 4. Apakah dengan menghina dia lewat SMS saya bisa di tuntut balik Demikian terima kasih

  • 8 Desember 2017

    Dijawab Oleh -

    Dijawab oleh Penyuluh Hukum Ahli Madya Drs. Abdullah, S.H. Jawaban Nomor 1 : Bagaimana caranya agar di A ini mau membayar hutangnya kepada saya? Cara agar si A mau membayar hutangnya, yaitu dengan cara menempuh jalan damai (musyawarah) seperti yang telah Anda lakukan, datangi dengan pendekatan kekeluargaan apalagi si A teman Anda, usahakan ada saksi sehingga tahu kalau si A itu berhutang kepada Anda, apakah pak RT, tetangganya, teman kerjanya. Apabila cara tersebut tidak berhasil, maka langkah hukum lain yang dapat dilakukan adalah dengan jalan litigasi, yaitu dapat menggugat ke Pengadilan Negeri. Si A sudah menandatangani surat pernyataan akan membayar hutangnya lunas tanggal 28 Maret 2017, surat tersebut dapat dijadikan sebagai alat bukti dalam persidangan bahwa teman saudara memang melakukan wanprestasi. Jawaban Nomor 2 : Apakah perbuatan si A dapat digolongkan sebagai penipuan? Penipuan adalah perbuatan sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 378 KUHP pada Bab XXV tentang Perbuatan Curang (bedrog). Bunyi selengkapnya Pasal 378 KUHP adalah sebagai berikut: “Barangsiapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum dengan memakai nama palsu atau martabat (hoedanigheid) palsu, dengan tipu muslihat, ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya memberi utang maupun menghapuskan piutang, diancam karena penipuan, dengan pidana penjara paling lama empat tahun”. Berdasarkan bunyi pasal di atas unsur-unsur dalam perbuatan penipuan adalah: a. Dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hukum; b. Dengan menggunakan salah satu upaya atau cara penipuan (memakai nama palsu, martabat palsu, tipu muslihat, rangkaian kebohongan). c. Menggerakkan orang untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang. Apabila memenuhi unsur tersebut dapat dikategorikan penipuan. Jawaban Nomor 3 : Apakah dengan mengatakan dia gak punya uang, dia bisa bebas dari tuntutan hutang, sementara saya tahu dia hidupnya glamour, kerja aja bisa pakai mobil, pakaiannya pun bermerk, sedang saya bekerja pakai sepeda motor, pakaian biasa saja? Apabila berhutang, pada prinsipnya tidak ada istilah bebas (pemutihan) dari kewajiban membayar hutang, dengan dalih tidak punya uang, bahkan apabila yang berhutang meninggal sekali pun hutang dapat diwariskan. Hal ini berdasarkan pada ketentuan hukum perdata Pasal 833 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata : ”Sekalian ahli waris dengan sendirinya karena hukum memperoleh hak milik atas segala barang, segala hak dan segala piutang si yang meninggal”. Pasal tersebut menyatakan bahwa para ahli waris, dengan sendirinya karena hukum, mendapat hak milik atas semua barang, semua hak dan semua piutang orang yang meninggal. Jawaban Nomor 4 : Apakah dengan menghina dia lewat sms saya bisa dituntut balik ? Penghinaan melalui pesan singkat (Short Message Service/SMS) dikategorikan sebagai tindak pidana penghinaan yang kepada pelakunya dapat dipidana dengan Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Ini karena SMS termasuk informasi/data elektronik. SMS dikategorikan sebagai informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 dan angka 4 UU ITE : Pasal 1 angka 1 : Yang dimaksud dengan Informasi Elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk, tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange (EDJ), surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol, atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya. Pasal 1 angka 4 Dokumen Elektronik adalah setiap Informasi Elektronik yang dibuat, diteruskan, dikirimkan, diterima, atau disimpan dalam bentuk analog, digital, elektromagnetik, optikal, atau sejenisnya, yang dapat dilihat, ditampilkan, dan/atau didengar melalui Komputer atau Sistem Elektronik termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta rancangan, foto atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol atau perforasi yang memiliki makna atau arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya. Apabila penghinaan yang dilontarkan melalui SMS, maka pada dasarnya telah melanggar ketentuan dalam Pasal 27 ayat (3) UU ITE, perbuatan yang dilarang : Setiap Orang dengan sengaja, dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik. Pasal 45 ayat (1) UU ITE : Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). Sekian terima kasih, mohon maaf kalau ada kekurangan.