Legal Smart Channel - Gaya Hidup Cerdas Hukum

  • 15 Oktober 2017

    alwi

    30 thn yg lalu dilaksanakan PJB lunas. Selama tiga puluh tahun berjalan tsb pembeli secara lisan setuju aset tsb diberikan pada penjual krn sertifikat masih atas nama Penjual., dan sdh dimasukan dalam sunset serta TA )tax amnesty penjual. Masalah timbul Tahun 2017 ini, pembeli hendak melaksanakan AJB dengan menggunakan PJB 30 thn yg lalu tsb. Apa konsekwensi hukumnya apabila Ajb dilakasnakan Tanpa tanda tangan/kehadiran penjual. Dan bagaimana dengan urusan Pajaknya. Terima kasih.

  • 9 November 2017

    Dijawab Oleh -

    Dijawab oleh Penyuluh Hukum Ahli Madya Sudaryadi, S.Ag., S.H., M.Si. Terimakasih telah berkonsultasi dengan kami. Perjanjian jual beli (PJB), merupakan perjanjian yang hanya mengikat sementara. Maksud mengikat disini adalah kewajiban dan hak antara penjual dan pembeli diatur oleh perjanjian PPJB hanyalah sementara dalam batas waktu tertentu, sesuai dengan yang tertera dalam perjanjian. Selanjutnya pertanyaan Saudara mengenai Akta Jual Beli (AJB), AJB dapat dibuat setelah pembayaran lunas. AJB merupakan dokumen yang membuktikan adanya peralihan hak atas tanah dari pemilik sebagai penjual kepada pembeli sebagai pemilik baru. Pada prinsipnya jual beli tanah bersifat tunai, yaitu dilakukan dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dan harganya telah dibayar lunas. Jika harga jual beli tanah belum dibayar lunas maka pembuatan AJB belum dapat dilakukan. Menurut pasal 37 Peraturan Pemerintah (PP) nomor 24 tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah, AJB merupakan bukti sah bahwa hak atas tanah dan bangunan sudah beralih kepada pihak lain. AJB dibuat dihadapan PPAT atau Camat untuk daerah tertentu yang masih jarang terdapat PPAT, dan secara hukum tidak bisa dilakukan dibawah tangan. AJB sebelum ditandatangani harus ada persetujuan dari suami atau istri penjual apabila penjual sudah menikah. Dalam suatu pernikahan, akan terjadi percampuran harta bersama kekayaan masing-masing suami dan istri. Begitu pula dengan hak atas tanah. Oleh karena hak atas tanah merupakan harta bersama dalam pernikahan, penjualannya memerlukan persetujuan dari suami atau istri. Persetujuan tersebut dapat diberikan dengan cara penandatangan surat persetujuan khusus. Dalam hal ini, suami atau istri dari pihak penjual turut menandatangani AJB. Apabila suami atau istri telah meninggal, hal tersebut harus dibuktikan dengan Surat Keterangan Kematian dari Kantor Kelurahan. Dengan meninggalnya suami atau istri penjual, anak-anak yang lahir dari pernikahan mereka akan hadir sebagai ahli waris dari tanah yang akan dijual. Anak-anak tersebut wajib memberikan persetujuan dalam AJB sebagai ahli waris menggantikan persetujuan dari suami atau istri yang meninggal. Dari keterangan di atas Saudara Pembeli, untuk pembuatan AJB tanpa kehadiran suami atau istri bagi yang sudah menikah apabila masih hidup tidak dapat dilakukan, atau tanpa kehadiran ahli waris apabila penjual sudah meninggal tidak bisa lakukan pembuatan AJB. Apabila hal ini dilakukan tanpa kehadiran mereka maka akan ditolak oleh Notaris atau PPAT. Saran kami apabila sudah bertemu dengan penjual dapat konsultasi dengan notaris atau PPAT yang kemudian akan dijelaskan mekanisme dan syarat-syaratnya apa saja dalam pembuatan AJB. Demikian terima kasih.