Legal Smart Channel - Gaya Hidup Cerdas Hukum

  • 5 Agustus 2017

    ilham supriatna

    bapak/ibu admin yang terhormat.. saya ingin menayakan teman saya seorang wanita umurnya di bawah 17 tahun dia di hamili pacarnya.. memang sang pacar dari teman saya menikahinya secara siri.. nah sebelum akad ada perjanjian di atas matrai bahwasanya siap membiayai anak sampai kapan pun dan ada perjanjian di saksikan oleh keluarga kedua belah pihak.. namun setelah menikah sang laki laki mengingkari janjinya bahkan semua perjanjian yang telah di sepakati oleh kedua belah pihak dia bantah semua , bukti perjanjian di atas matrainya pun masih ada.. ibu dari anak sang laki lakinya pun pernah mengsut agar teman saya yang perempuan membenci ayahnya , padahal teman saya sejak kecil tinggal dan di besarkan oleh ayahnya , bukti screenshoot percakapan antara ibu laki laki dan teman ada.. laki lakinya pun pernah meminta paksa teman saya untuk foto yang kurang baik , itu pun ada bukti screenhoot percakapanya.. bahkan ketika teman saya melahirkan hari sabtu ke esokan harinya yang di tanyakan oleh si ibu dari anak laki laki itu "kapan akan memberikan anak/cucu itu kepada saya" jelas teman saya tidak terima bahkan darah pun masih mengalir di rahim sang teman saya.. yang di bingung kan oleh dia (teman saya) kemana dia harus melapor karna teman saya dari kalangan orang yang kurang mampu dan sudah muak tidak di nafkahi diri dan anaknya serta selalu di asut ke jalan yang tidak baik

  • 5 September 2017

    Dijawab Oleh -

    Dijawab oleh Penyuluh Hukum Ahli Madya Ratiyo BG, S.H. Jawaban : Yth. Sdr. Ilham Supriatna - Kami mengucapkan terima kasih kepada Sdr. Ilham supriatna yang telah membantu teman saudara menyampaikan kasus permasalahan yang dialami teman saudara yang sangat penting ini. Setelah membaca permohonan konsultasi dari saudara ilham S. Mengenai permasalahan tersebut (terlampir), dapat kami sampaikan bahwa Menurut UU No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Dinyatakan syarat-syarat perkawinan pada Pasal 6 ayat (2) bahwa, Untuk melangsungkan perkawinan bagi seseorang yang belum mencapai usia 21 tahun harus mendapatkan izin dari kedua orang tua, dikarenakan Teman saudara seoraang wanita melakukan nikah sirri masih dibawah usia 17 tahun. Jadi dalam UU tersebut mempunyai prinsif bahwa calon suami isteri itu harus sudah masak dan mapan jiwa raganya untuk dapat melangsungkan suatu perkawinan, agar nantinya dapat mewujudkan tujuan suatu perkawinan secara baik. Maka dari itu pemerintah mencegah adanya perkawinan di bawah umur. Kemudian teman saudara yang wanita itu hamil oleh pacarnya dan dinikahi secara sirri, dengan adanya perjanjian diatas meterai oleh keluarga kedua belah pihak. Ini adalah suatu kekeliruan yang sangat mendalam disebabkan hanya untuk menutupi aib (malu) dari masing-masing keluarga kedua belah pihak. - Seharusnya keluarga ke dua belah pihak kalau sudah mengetahui adanya permasalah dari anak-anaknya tersebut. Sebaiknya dilakukan saja perkawinan tersebut secara sah menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya, artinya perkawinan harus dicatat dikantor urusan agama, bukannya dilakukan nikah sirri. - Disamping itu teman saudara yang hamil, anak yang dilahirkan dari perkawinan sirri hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya. Karena anak lahir dari hasil perkawinan sirri juga tidak mempunyai hak memperoleh waris dari pihak ayahnya. - Karena anak yang dilahirkan dari rahim ibu kandungnya..! Walau bagaimanapun juga tidak bisa diberikan kepada orang lain, sebab anak adalah amanah dan karunia dari Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya walaupun masih didalam kandungan ibunya. Pasti ibu kandungnya akan merawat, melindungi, mendidik, agar nantinya dapat hidup, tumbuh berkembang dan dapat berpartisipasi secara optimal sesuai harkat dan martabat kemanusiaan. Sebagaimana dinyatakan dalam UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. - Kemudian teman saudara diminta paksa untuk foto yang kurang baik..! disitu pertanyaannya kurang lengkap, akan tetapi menurut saya, apakah itu berfoto maksudnya mengandung pengertian pornografi, kalau itu yang dimaksud dan untungnya teman saudara tidak mau melakukannya, jadi tidaklah bermasalah. Akan tetapi kalau itu dilakukan dengan paksa untuk tujuan menyebarluaskan atau menyediakan pornografi, dan/atau memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat, maka masalah tersebut dapat dikenakan sanksi pidana dalam Undang-Undang No 44 tahun 2008 tentang Pornografi. - Nah.. oleh karena itu, apabila saudara sudah memahami apa yang kami terangkan ini, agar dapat kiranya disampaikan atau diinformasikan kepada teman saudara. Sedangkan mengenai perjanjian-perjanjian yang telah disepakati oleh keluarga kedua belah pihak, agar dapat dimusyawarahkan dengan mufakat secara kekeluargaan saja. Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat. Disamping itu pula, perlu kami informasikan bahwa Kepala Pusat Penyuluhan dan Bantuan Hukum. Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan HAM.RI. memberikan konsultasi hukum secara gratis dan tidak dipungut biaya sepeserpun bagi masyarakat miskin yang memerlukan konsultasi dan bantuan hukum tentang permasalahan hukum yang ada didalam masyarakat. Baik melalui online ataupun datang ke Kantor BPHN. Kementerian Hukum dan HAM.RI. Jl. Mayjen Sutoyo No.10 Cililitan. Jakarta Timur.